Selasa, 10 Agustus 2010

cerpen remaja

DUA MALAIKAT BERBAGI SEPASANG SAYAP(1)

“Leon, mau kemana lu?” Ia bertanya lagi.
Aku berhenti sembari meliriknya dingin, “Mau main, bosen disini!” Kataku dengan nada datar, lalu kembali melangkah.
“Tapi lu kan disuruh jaga rumah, terus gue ditinggal sendiri disini?” Ia masih protes dengan bawelnya, membuatku kesal.
Langkahku terhenti demi kembali menatapnya, “Dion, lu tuh udah gede! Bisa kan jaga diri sendiri? Malu dong sama umur!” Ucapku gemas. “Sekalian juga jagain tuh rumah!” Aku meninggalkannya tenang setelah berhasil menyindirnya. Kudengar ia menghela napas pasrah.


Tadi itu, satu-satunya orang yang menjadi saingan beratku, dengan wajah dan postur tubuh identik denganku, dia abang kembarku. Tapi ia begitu berbeda denganku, begitu memuakkan. Sebagai cowok ia terlalu lemah, penjilat, selalu ia yang menjadi kesayangan dan kebanggaan orang tua kami. Selalu ia yang merebut hakku, selalu ia yang mencuri perhatian orangtua kami, selalu ia yang paling diperhatikan dan diutamakan. Dan terutama karena ia selalu berhasil menarik belas kasihan orang-orang dengan tubuh lemahnya yang sakit-sakitan itu. Dan ia selalu sukses merebut predikat “anak baik dan penurut” karena sikap kalem, pasif dan pendiamnya itu, dan selalu aku yang sukses dicap “berandal”, hanya karena aku hidup sebagai remaja aktif yang normal. Ceria, bersemangat, banyak teman, sedikit kenakalan, itu biasa kan? Namun sekali lagi, karena aku selalu dibanding-bandingkan dengannya, aku tak pernah menang, tak pernah dipahami, dan selalu disalahkan.


Aku sukses kabur malam ini. Main kerumah teman, berkumpul dengan para sahabatku, dan bersenang-senang sepanjang malam, itulah jadwal kesibukanku sehari-hari. Setelah itu pilihan ada dua, menginap di rumah mereka dan pulang pagi, atau pulang larut malam, melompati pagar rumah sendiri, dan membuka pintu dengan kunci serep yang kupegang. Kedua-duanya tetap, tak lepas dari omelan.


Pagi di hari Minggu ini, aku pulang dari bermain semalam suntuk dengan para sahabatku, bersiap dengan muncratan omelan. Aku masuk ke rumah berusaha bertingkah innocent, tampaknya kesibukan berpusat di kamar Dion.Mau tidak mau aku harus melewati depan kamar Dion untuk menuju ke kamarku. Aku melangkah melewati pintu kamar Dion yang terbuka.
“Leon, dari mana saja kamu?” Interogasi Mamaku yang ternyata menyadari kedatanganku. Ia duduk di ranjang, menemani Dion yang terbaring di kamarnya. Hah, apalagi ini? Dion sakit lagi?
“Main!” Jawabku pasrah. Mulai kukebalkan telingaku dari sekarang.
Ayahku mendekatiku dengan ekspesi murka, bersiap memuncratkan omelan. “Dasar anak nggak bertanggung jawab! Kamu harusnya di rumah menjaga abang kamu! Kapan kamu berhenti bertindak egois?” Ia memulai dengan preambule. “Lihat sekarang, kondisinya menurun lagi! Coba kamu tetap menurut di rumah, mungkin dia bisa lebih cepat ditangani!”
“Itu sih salah dia, siapa suruh jadi cowok kok lemah banget! Jaga diri sendiri aja nggak bisa, bikin repot!” Celetukku gemas.
“PRAAKK!” Tangan kekar ayah menamparku. Aku mengelus pipiku yang panas, kemarahanku memuncak.
“Sudah ayah! Jangan!” Dion melarang lemah.
“Ayah ini maunya apa? Ibu juga! Dion sakit dikit, langsung kalian meninggalkan kerjaan kalian gitu aja! Dimana kalian saat aku menjuarai lomba band antar sekolah? Dimana kalian saat aku memenangkan pertandingan futsal? Dimana kalian saat aku sedang butuh orangtua? Sibuk? Tapi kalian nggak pernah ‘sibuk’ kalau demi Dion!” Aku mengeluarkan limpahan unek-unekku penuh emosi. “Terus aja salahin! Memang selalu aku yang salah! Karena aku sehat, karena aku yang aktif dan menjadi remaja normal! Karena kalian kasihan sama Dion yang nggak bisa aktif kayak aku jadi selalu aku yang dipersalahkan! Aku juga nggak minta jadi sehat sendirian gini!” Ucapku kesal. “Enak banget seandainya aku yang sakit kayak dia!”
“Jaga bicara kamu!” Ayah memperingatkanku dengan mata berkilat-kilat geram. Sedangkan ibu terpaku, shock mendengar perlawananku.

Aku berlari ke kamarku sendiri. Membanting pintu lalu menguncinya dari dalam. Ketika kecil aku sering kehilangan perhatian dan kasih sayang orangtuaku hanya karena mereka terlalu terfokus pada Dion. Teringat lagi kenangan masa kecilku. Saat kami pertama kali dibelikan sepeda roda dua yang sering kulihat dipakai teman-temanku, aku sendiri telah belajar mengendarainya dari mereka.
Aku melirik Dion, lalu melirik sepeda ‘kami’ yang hanya satu.
“Dion mau pake?” Tanyaku polos.
“Kamu duluan aja! Aku nggak bisa!” Akunya.
“Gini aja deh, aku dulu lima belas menit, terus gantian, Dion nyobain lima belas menit! Gimana?” Aku menawarkan solusi agar adil. Kasihan juga melihat abangku itu.
“Iya deh! Boleh!” Seperti yang kuduga, dia selalu menurut dan mengalah.
Aku kecil mengendarai sepedaku dengan riang, baru lima menit berselang ibu datang menghampiri kami.
“Leon, kok Dion nggak diajak main?” Tegurnya padaku dengan ekspresi menyalahkan.
Aku mencoba membela diri, “Tapi tadi…”
“Aku nggak bisa ma! Biarin Leon aja!” Seperti biasa, Dion beraksi sebagai anak yang pengalah.
“Ya Leon ajarin Dion dong, gimana sih kamu! Malah asyik main sendiri!” Peringat ibu kesal. Lalu selanjutnya ibu merebut sepedaku (tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan) dan menyuruh Dion yang mencobanya, dengan lembut mengajarinya menaikinya. Sedangkan aku hanya terpaku dibelakang mereka, tersisihkan. Aku, naik sepeda sendiri hanya dalam waktu lima menit, dan Dion bahkan dibantu ibu, berdua bermain menghabiskan sisa waktu sebanyak apapun yang mereka miliki ketika itu. Aku begitu iri pada perhatian ibu ke Dion waktu itu. Dan sekarang masih aku yang disalahkan?

Aku mengerti maksud orang tuaku, sangat mengerti. Mereka hanya mempermasalahkan sikap Tuhan yang mereka anggap tidak adil terhadap Dion yang lebih lemah dariku. Lalu mereka mencoba membalas ketidak adilan itu padaku, hanya agar Dion merasa hidup adil, sama-sama tidak enak.
Kalau boleh memilih, aku mau menempati posisi Dion, malah sangat ingin. Dia selalu lebih beruntung segalanya dariku. Dia mendapatkan perhatian berlimpah dari kedua orangtuaku, tidak sepertiku yang selalu diacuhkan dengan alasan pekerjaan. Lalu begitu mudah bolos sekolah hanya dengan alasan sakit, pusing, dan segala macamnya. Hal yang paling menyenangkan jika menjadi Dion adalah aku tidak akan pernah disalahkan dan dimarahi. Aku akan dikasihani karena dianggap anak yang lemah, lalu semua kemauanku akan dengan mudah dituruti.
“Leon, ini ibu nak! Maafkan ibu dan ayah! Tadi ayahmu sedang emosi!” Terdengar suara ibu diiringi ketukan pintu kamarku.
“Anak ibu dan ayah cuma Dion, bukan aku!” Tegasku kesal.
“Ibu mengerti perasaanmu! Maafkan kami karena terlalu menuntutmu, tapi ini demi kebaikan Dion! Kita harus paham situasinya, sekarang Dion yang sedang perlu perhatian kita!” Ibu mencoba menjelaskan.
“Bukan cuma sekarang bu! Sejak dulu cuma Dion, bahkan nantipun tetap cuma Dion yang kalian perhatikan! Lalu buat apa aku ada?” Tuntutku membalas.
“Jangan bilang begitu nak! Kalian ini lahir bersama, saling membutuhkan dan membantu! Jadi kamu pasti terlahir untuk membantu menopang Dion yang lemah ini!” Ibu melanjutkan petuahnya.
“Oke, kali ini Dion yang jadi pemeran utama! Aku ngerti bu, sejak dulu aku memang nggak dipedulikan, aku yang luntang-lantung diungsikan ke rumah saudara hanya agar ibu dan ayah konsentrasi mengurus Dion….” Aku mengenang masa kecilku. Aku memang sempat kehilangan perhatian orangtuaku karena direbut Dion. Beralasan ingin konsentrasi mengurus kondisi abang kembarku, maka aku diasingkan sementara dari rumahku sendiri. Sehingga kini aku tertempa menjadi sosok yang mandiri, tidak seperti Dion yang manja, menyedihkan, memuakkan.
“Baik, kamu boleh kesal kepada ibu dan ayah! Tapi ibu mohon, jangan kepada Dion! Kasihan dia nak, mengertilah sedikit!” Ibu berpesan yang terakhir kali sebelum akhirnya sepi.

Aku juga sebenarnya tidak tega menyalahkan Dion, kasihan juga ia. Aku jadi merasa bersalah selama ini selalu dingin padanya karena terbawa rasa iriku. Toh ia juga tidak pernah jahat terhadapku, bahkan selama ini terlalu sabar dan mengalah terhadapku. Kalau boleh jujur, sebenarnya tidak ada yang buruk dari sifatnya, polos, kalem, pasif, innocent. Tapi keadaan yang membuatku membenci jurang perbedaan ini. Aku memasuki kamar Dion yang lengang. Orangtuaku kembali sibuk dengan pekerjaan yang selalu menyita waktu mereka setelah kondisi Dion baikan. Dion terbaring di ranjangnya, dengan muka pucat dan kondisi menyedihkan. Sakit apa sebenarnya anak ini? Sejak dulu kulihat tidak pernah ada habisnya.
“Lu nggak apa-apa?” Tanyaku, jadi mengkhawatirkan keadaannya. Tak menyangka akan terlihat sebegini menyedihkan.
Dion tersenyum lemah, “Maaf ya gue selalu bikin lu kesal!” Ucapnya, tanpa korelasi dengan pertanyaanku sebelumnya.“Mana bisa gue kesal sama lu!” Jawabku, mencoba menenangkan hatinya. “Tapi gue emang iri sama lu!”
Ia terkekeh lemah, “Nggak salah?” Ia seolah tak mempercayai pendengarannya.
“Liat aja, selalu lu yang diutamakan! Selalu lu yang dibela, dianggap baik, dan selalu gue yang disalahkan! Lu bisa enak-enakan tidur seharian disini dan dengan santai bolos sekolah! Gue, bahkan gue pusing aja masih dipaksa masuk sama ortu kita! Ortu selalu rela nurutin apa aja permintaanlu, beliin makanan kesukaanlu, sedangkan mereka aja mungkin lupa makanan favorit gue apa! Dan lagi, mereka selalu bersedia nyisain waktu tinggalin pekerjaan yang mereka anggap berharga itu buatlu, cuma buatlu!” Aku menjabarkan alasannya.
“Percaya deh, gue lebih milih bisa terus masuk sekolah dan terus bergaul sama anak-anak kayak remaja biasa, daripada tidur terus disini kayak pesakitan! Kalo lu tau rasanya, lu pasti nggak bakal lagi bilang ini enak!” Dion menceritakan. “Lu harusnya bersyukur, punya kesehatan, punya banyak tenaga, waktu, dan banyak teman, pergaulan luas, punya kesempatan buat nikmatin masa remaja yang ceria! Daripada gue, gaulnya sama dokter, suster, obat, sama ortu, nggak banget kan!”
Aku merenungkan ucapannya itu dan mulai tersugesti. “Iya juga ya!” Aku jadi kasihan padanya.
“Udah nggak usah kasihan dan ngerasa bersalah gitu sama gue! Lu nggak salah apa-apa atas keadaan gue yang kayak gini!” Dion menambahkan. “Gue justru udah muak banget dengan keadaan gue yang menyedihkan ini, yang selalu buat orang-orang menatap kasihan ke gue! Kalo lu mau tau, sebenernya gue benci banget dikasihanin! Mungkin lu bener, salah gue jadi cowok terlalu lemah, tapi mau gimana lagi, bukan gue yang mau punya badan manja kayak gini!”
“Maaf atas ucapan gue itu!” Aku cukup kaget ia masih ingat luapan kekesalanku itu. Sejenak aku jadi penasaran dengan keadaannya sekarang ini. “Lu sebenernya sakit apa sih? Perasaan dari dulu nggak kelar-kelar!”
Ia memutar bola matanya, seolah meremehkan “Yah biasalah! Paling diare, masuk angin, maag, muntah-muntah! Gitu-gitu aja! Pencernaan gue lemah sih!”
“Serius itu doang?” Tanyaku memastikan, ragu dengan pengakuannya. “Masa sampe lu selemah dan sepucet ini? Kulitlu kuning banget gitu!”
“Yaah namanya juga orang sakit! Ya begini lah!” Dion menjawab ringan. Namun aku tidak percaya semudah itu pada pengakuannya.


Aku keluar kamar Dion, obrolanku dengan Dion barusan memberi sedikit pencerahan bagiku. Setidaknya aku sadar, bukan ia yang seharusnya aku persalahkan. Ia tak bersalah, aku harus melepas rasa kesalku padanya. Lalu ada satu hal lagi yang tertinggal dalam benakku, sebenarnya apa penyakit Dion. Apa iya penyakit-penyakit pencernaan ringan seperti itu bisa terus sembuh dan kambuh tak henti-hentinya, aku tidak percaya.


Aku menyeruput es jeruk, setelah itu resmi kelarlah makan siangku pada istirahat sekolah kali ini.
“Dion kenapa nggak masuk lagi? Sakit lagi?” Tanya Aina, sahabatku yang paling manis.
“Yah gitu deh!” Aku menjawab datar.
“Sakit apa sih dia? Perasaan sakit melulu!” Aina beralih menghadapku, memandang mataku. Membuat frekuensi degup jantungku meningkat.
“Nggak tau, nggak jelas juga!” Ucapku jujur.
“Masa sih lu nggak tau? Lu kan kembarannya!” Protesnya bawel dengan bibir imutnya yang menggemaskan.
“Ya…pengakuannya sih sakit pencernaan gitu! Maag kali!” Tebakku asal, walau aku sendiri tak yakin dengan pengakuan Dion kepadaku.
“Oh gitu!” Ia mengangguk lucu. “Dia badannya lemah ya?”
Aku meliriknya curiga. “Kenapa sih lu selalu tertarik ngomongin dia?”
“Emang kenapa?” Tanyanya balik.
“Ya…heran aja! Secara masih banyak obrolan lain!” Tampikku. Padahal hatiku sebenarnya ingin menanyakan “Kenapa kamu nggak tertarik nanyain tentang aku aja?” Siapa yang nggak kesal jika cewek yang disukai malah membicarakan cowok lain di depan kita. Ditambah lagi, cowok itu kembaran kita sendiri, berlipat-lipat kesalnya.
“Hahaha, jealous ya?” Aku tersentak dengan ucapan polosnya itu. Aina mengucapkannya dengan begitu ringan, sembari tertawa. Apa ia sudah tahu perasaanku padanya? “Yah anak kembar emang suka kena syndrome jealous gitu kan ya? Nggak suka kalau kembarannya lebih diperhatiin daripada dia, gitu kan biasanya?”
“Sok tau lu!” Komentarku singkat. Sedikit lega karena ia belum mengetahui perasaanku.
“Pulang sekolah gue kerumahlu ya! Boleh nggak?” Aina mengucapkan sesuatu yang membuatku tercengang gembira, tumben tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada tugas kelompok, tidak ada PR dan tidak ada yang mengajak, ia berinisiatif sendiri. Inisiatif yang menggembirakan untukku.
“Boleh aja! Ngapain?” Tanyaku sok cuek, berusaha bersikap wajar.
“Mau jenguk Dion, gue jadi khawatir!” Akunya.
Dan kegembiraanku runtuh seketika. Lagi-lagi Dion.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar